Saturday, October 3, 2020

Kerajaan-Kerajaan Maritim di Indonesia bagian Timur

 

A.   Kerajaan Gowa Tallo

Pada tahun 1605 Kerajaan Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan bercorak Islam. Kerajaan Gowa-Tallo terletak di Sulawesi Selatan. 

1.    Kehidupan Pemerintahan

Proses islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo dimulai tahun 1605. Bangsawan Gowa-Tallo pertama memeluk Islam adalah pengusaha dari Tallo bernama Karaeng Katangka. Setelah memeluk Islam ia bergelar Sultan Abdullah. Selanjutnya raja ke-14 Gowa, Manga’rangi Daeng Manra’bia (1593-1639) mengikuti jejak Karaeng Katangka memeluk Islam. Setelah masuk Islam, Manga’rangi Daeng Manra’bia bergelar Sultan Alauddin.

Sultan Alauddin berusaha mengislamkan berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan.

Kerajaan Gowa Tallo mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Ia berhasil membangun Gowa-Tallo menjadi kerajaan maritime yang menguasai jalur perdagagang di wilayah Indonesia bagian Timur. Sultan Hasanuddin sangat menentang tindakan VOC yang memonopolli perdagangan rempah-rempah di Indonesia Timur. Upaya Sultan Hasanuddin menimbulkan kemaran VOC. VOC mengirimkan armada perang pada tahun 1666. Pemimpin armada tersebut adalah Cornelis Speelman yang kelak menjadi gubernur jenderal VOC. Pasukan VOC mendapat bantuan dari Aru Palaka, putera mahkota kerajaan Bone.

Sultan Hasanuddin mendapat julukan “Ayam Jantan dari Timur” 

Dalam pertempuran armada laut Gowa-Tallo berhasil dihancurkan oleh VOC yang bekerja sama dengan Aru Palaka. Pada tanggal 18 November 1667 Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya berisi beberapa kesepakatan:

a)    VOC memperoleh monopoli perdagangan rempah-rempah di Makasar

b)    VOC mendirikan benteng pertahanan di Makasasr

c)    Gowa-Tallo harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya

d)    Aru Palaka diakui sebagai raja Bone

2.    Kehidupan Sosial

Norma masyarakat Gowa-Tallo cenderung feudal. Masyarkaat Gowa-Tallo dibedakan menjadi beberapa kelas:

a.    Karaeng (Golongan Bangsawan)

b.    Tumasaraq (rakyat biasa)

c.     Ata (budak)

Untuk menghindari kehidupan feodal, banyak rakyat Gowa-Tallo menjadi pelaut. Rakyat Gowa-Tallo juga dikenal setia kepada rajanya denga bukti ketika Sultan Alauddin memeluk Islam dan segera diikuti rakyatnya.

3.    Kehidupan Ekonomi

Kedekatan geografis dengan kepulauan Maluku menyebabkan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi pintu gerbang perdagangan rempah-rempah. Pelabuhan Somba Opu berkembang menjadi Bandar transito yang berperan sebagai penghubung jalur perdagangan antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Kondisi ini mendorong Gowa-Tallo berkembang menjadi kerajaan maritime yang menitikberatkan kegiatannya pada sector perdagangan dan pelayaran. Kemampuan dalam  bidang pelayaran dibuktikan dengan kemampuan masyarkaatnya membuat kapal pinisi.

Pada abad XVII Kerajaan Gowa-Tallo berkembang menjadi pelabuhan internasional yang cukup ramai. Pedagang asing dari Portugis, Inggris, Denmark, dan Spanyol bergantian mengunjungi pelabuhan Somba Opu untuk berdagang. Ketertiban dalam berdagang pun juga sudah tersedia, yakni dengan adanya sebuah hukum niaga Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue yang termuat dalam buku Lontana Amana Coppa.  Hukum ini dirasa sangat tepat dan hasilnya, rakyat yang berdagang pun sukses sehingga kehidupannya lebih makmur.

4.    Kehidupan Budaya

Budaya nasyarakat Gowa-Tallo berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran. Sebagai kerajaan maritime. Gowa-Tallo memiliki industri pembuatan kapal yang maju. Kapal layar pinisi buatan masyarakat Gowa-Tallo mampu mengarungi samudera hingga Australia, India, Timur Tengah, dan pantai Timur Afrika. Masyarakat Gowa Tallo juga terampil membangun rumah adat, Balla Lompoa yang berbentuk rumah panggung. Rumah ini memiliki banyak tiang kayu. Tiang-tiang tersebut erupakan lambang status social dalam masyarakat. Rumah seorang karaeng bertiang paling banyak, sedangkan rumah seorang ata bertiang sedikit.

B.   Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar terletak di Kalimantan Selatan. Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari kerajaan bercorak Hindu bernama Daha yang berpusat di Dipa. Proses islamisasi di wilaah Kalimantan, khususnya wilayah Banjar dilakukan oleh beberapa ulama di Jawa. Salah satu ulama yang terkenal dalam proses islamisasi di Banjar adalah Khatib Dayan dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. 


1.    Kehidupan Pemerintahan

Pengaruh Banjar berawal saat di Kerajaan Banjar terjadi perpecahan antara pangeran Tumenggung dan Raden Samudera. Dalam menghadapi Pangeran Tumenggung, Raden Samudera meminta bantuan Demak di Jawa. Kerajaan Demak menyanggupi permintaan permintaan Pangeran Tumenggung dengan syarat rakyat Banjar bersedia masuk Islam. Pangeran Samudera menganggupi saran tersebut. Bersama pasukan Demak Pangeran Samudera berhasil mengalahkan PangeraunTumenggung. Pangeran Samudera memimpin krajaan Banjar dengan gelar Sultan Sruyanullah. Setelah itu, banyak pejabat kerajaan dan yang memeluk Islam.

Sejak pemerintahan Sultan Suryanullah, kerajaan Banjar meluas wilayah kekuassaannya hingga Sambasa, Batanglawai Sukadana, Kotawaringin, Smapit, Madawi dan Sambangan. Sebagai bentuk ketaatan terhadap Kerajaan Banjar, Sultan Suryanullah meminta darah tersebut mengirim upeti. Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah, Kerajaan Banjar memindahkan ibukota kerajaan ke Amuntai.

Sultan Mustain Billah dianggap raja terbesar Banjar karena memiliki kekuatan militer cukup besar dengan 50.000 prajurit. Dengan kekuatan militer tersebut, Kesultanan Banjar dapat membendung pengaruh politik dari Tuban, Arosbaya dan Mataram. Pada masa pemerintaha Sultan Mustain Billah kerajaan Banjar berusaha meluaskan wilayah kekuasaan.

2.    Kehidupan Sosial

Susunan masyarakat Banjar berbentuk segitiga piramida. Lapisan teratas adalah golongan penguasa sebagai golongan minoritas. Orang-orang Belanda berada di lapisan kedua karena jalinan hubungan baik antara sultan dengan Belanda karena perdagangan. Hubungan baik ini ditandai dengan pemberian keleluasaan bagi orang-orang Belanda untuk melakukan kegiatan perdagangan tanpa campur tangan pihak kerajaan. Keleluasaan orang-orang Belanda terlihat dalam menguasai sector pertambangan, seperti minyakak dan batu bara. Adapun lapisan terbawah merupakan golongan mayoritas yang terdiri atas rakyat jelata, petani, pedagang dan nelayan

3.    Kehidupan Ekonomi

Perekonomian kerajaan Banjar bergantung pada kegiatan perdagangan dan pertanian. Lada merupakan komoditas dagang utama kerajaan Banjar yang diburu oleh banyak pedagang dari Demak dan Gowa. Kegiatan perdagangan Banjar berkembang karena letaknya berada di tepi Sungai Nagara. Sungai Nagara memiliki debit air deras dan membawa endapan alluvial yang berguna bagi kegiatan pertanian.

Pada tahun 1697 Masehi terjadi migrasi pedagang Mataram di Jawa akibat adanya agresi yang dilakukan VOC terhadap Mataram. Selanjutnya, perang Makasar yang terjadi antara kerajaan Gowa-Tallo dan VOC juga menyebabkan banyak pedagang memilih memindahkan kegiatan perdagangannya dari pelabuhan Somba Opu ke Banjar.

4.    Kehidupan Budaya

Tidak banyak catatan sejarah yang menjelaskan kehidupan kebudayaan kerajaan Banjar. Kerajaan Banjar berkaitan erat dengan ajaran Islam. Sultan dan ulama merupakan satu kesatua yang tidak bias dipisahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan syariat Islam. Hubungan baik ulama dan Sultan Suryanullah terlihat jelas dalam kitab Sabulul Muhtadin dan Parukunan yang ditulis atas permintaan Sultan Suryanullah. Kedua kitab tersebut dijadikan pedoman hokum Kerajaan Banjar.

Pada masa Sultan Tahlilullah muncul ahli tasawuf bernama Muhammad Aryad bin Abdullah al-Banjari. Ia juga seorang ulama besar yang diberangkatkan oleh Sultan Tahlilullah ke Mekah dan Madinah selama beberapa tahun untuk belajar tentang Islam. Salah satu karyanya adalah Kanz al-Ma’rifah (Gudang Pengetahuan). Salah satu peninggalan kerajaan Banjar adalah masjid Sultan Suriansyah



C.   Kerajaan Ternate Tidore

Pada aban ke XV Masehi Islam mulai berkembang di Maluku. Islamisasi di daerah ini dilakukan oleh para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa. Kerajaan Ternate dan Tidore terletak dikepulauan Maluku Utara. Sejak abad XV Masehi Ternate dan Tidore dikenal sebagai negeri penghasil rempah-rempah (The Spicy Island) di Indonesia.



1.    Kehidupan Pemerintahan

Raja pertama di Maluku yang memeluk Islam adalah Kolano Marhum dari Ternate. Selanjutnya, Kolano Marhum digantikan puteranya yang bernama Zainal Abidin. Pada masa pemerintahan Zainal Abidin gelar Kolano diganti dengan sultan dan Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Ternate. Sejak saat itu Islam mengalami perkembangan pesat di Maluku. Kerajaan Islam pun mulai bermunculan diantaranya adalag Tidore.

Termate dan Tidore merupakan dua kerajaan besar yang saling bersaing dalam menguasai perdagangan di wilayah Kepulauan Maluku. Dalam persaingannya, Ternate membentuk Uli Lima (Persekutuan Lima)yang terdiri atas Pulau Bacan, Obi, Seram dan Ambon. Tidore membentuk Uli Siwa (Persekutuan Sembilan) yang terdiri atas Pulai Jailolo, Makian dan pulau-pulau kecil di Maluku sampai Papua. Persaingan perdagangan antara Ternate dan Tidore yang akhirnya melibatkan Portugis dan Spanyol.

Pada tahun 1512 bangsa Portugis bersekutu dengan Ternate, sedangkan Spanyol bersekutu dengan Tidore. Akibat persekutuan tersebut, terjadi pertikaian antara Portugis dan Spanyol. Untuk menyelesaikan perselesaian itu, pada tahun 1528 Paus Alexander VI menentukan garis batas kekuasaan Portugis dan Spanyol dalam perjanjian Saragosa. Berdasarkan perjanjian tersebut Portugis tetap berkuasa di Maluku, sedagkan Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina.

Berkat perjanjian Saragosa bangsa portugis semakin berkuasa di Maluku. Mereka melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku dan ikut canpur dalam urusan pemerintahan kerajaan. Kondisi ini menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Maluku bangkit mewalan Portugis. Perlawanan tersebut dapat digagalkan oleh Portugis, bahkan Sultan Hairun dibunuh. Perlawanan ralyat Maluku tehadap Portugis tetap berlanjut dibawah pimpinan Sultan Baabullah Putra Sultan Hairun.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Baabullah menyatakan diri sebagai penguasa seluruh Kepulauan Maluku. Bahkan, ia mendapat pengakuan dari kerajaan-kerajaan lain dari luar Maluku. Oleh karena itu, Sultan Baabullah mendapat julukan “Tuan dari 72 Pulau”

2.    Kehidupan Sosial

Pad amasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin (1486-1500) proses islamisasi di Maluku berkembang pesat. Sultan Zainal Abidin menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Ia memberlakkukan syariat Islam dan membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan ulama.langkah-langkah Sultan Zainal Abidin ini diikuti kerajaan-kerajaan lain di wilayah Maluku.

Masyarakat Terbate dan Tidore memiliki toleransi yang tinggi dalam bidang agama. Sejak kedatangan bangsa Portugis di Maluku pada tahun 1522, banyak penduduk Ternate dan Tidore memeluk agama Nasrani. Meskipun demikian, kehidupan social masyarakat di kedua kerajaan tersebut tetap berlangsung harmonis.

3.    Kehidupan Ekonomi

Ternate dan Tidore merupakan kerajaan maritime yang menggantungkan perekonomian pada perdagangan rempah-rempah. Sebagai produsen rempah-rempah, kedua kerajaan tersebut bersaing memperebutkan pasar untuk menjual rempah-rempah. Terlepas dari persaingan itu, Ternate dan Tidore berkembang menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Banyak kapal asing yang singgah di pelabuhan tersebut. Bangsa Barat juga sering mengunjungi Ternate dan Tidore untuk membeli rempah-rempah. Di antara rempah-rempah yang diekspor, cengkeh dan pala dari Maluku merupakan komoditas berharga. Oleh karena itu, bangsa-bangsa Barat bersaing menjalin hubungan dagang dengan Ternate dan Tidore.

4.    Kehidupan Budaya

Meskipun masyarakat Ternate dan Tidore disibukkan dengan kegiatan ekonomi perdagangan, mereka berhasil menciptakan beberapa bangunan unik. Salah satu bangunan tersebut adalah masjid Sultan Ternate yang dibangun di dekat Keraton Ternate. Masjid tersebut memiliki bentuk segi empat dengan atap berbentuk limasan bertingkat tujuh. Selain itu, masjid Sultan Ternate terkenal unik karena memiliki aturan-aturan adat yang tegas seperti larangan mengenakan sarung serta kewajiban mengenakan celana panjang dan penutup kepala (kopiah) bagi para kemaah. Aturan-aturan itu masih berlaku dan ditaati oleh masyarakat Ternate hingga kini.



No comments:

Post a Comment